Forum Farmasi UNEJ

Forum Komunikasi Civitas Akademika PS. Farmasi UNEJ
 
IndeksIndeks  PortailPortail  CalendarCalendar  GalleryGallery  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  

Share | 
 

 Say No To Puyer !

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Fuad 2004
Newbie
Newbie


Male
Jumlah posting : 9
Age : 30
Lokasi : Jember
Status : Mahasiswa
Registration date : 02.05.07

PostSubyek: Say No To Puyer !   Sun Jun 15, 2008 10:08 am

Dari Milis tetangga..
banyak hal yang masih menjadi tugas kita sebagai apoteker, lantaskah kita hanya diam dan hanya menjadi apoteker "pecundang" ?
masih banyak hal yang harus kita garap di pelayanan apotek dan rumah sakit,
what do u mind about this ?

From: Toteng Sunandar
Date: 05/29/08 19:42:55
To: dudung; Aking Setiawan; Aris Susandi; Made Yeni Dharmayanti; Jonet;
Junaedi Abdilah; dede Iwan Iriawan; Chica; Tata Mulya; insoe soemeenor;
bagja wijaya; Babam Mulia; Apip Susandi; pentoel korex; Zani VMC; tonkinik;
syamsu riyadh VMC; syaifuddin fudin; Stio Adi; SRiE RaTRIaNi; Slamet Blok-R;
savira_w; Sarno VMC; Mursito Vmc; Mohamad Aminudin VMC; Ian VMC; Huda VMC;
hasan basri; Fuad VMC; florida tarmasis; Firman VMC; Faisal VMC; Asmawi vmc;
ahmad yani Kasang; AGUS GUNAWAN; Aenaldy; adithya firgandara; HALIM - Abdul
Halim
Subject: Say NO to Puyer!!


BUAT YANG PUNYA ANAK KECIL SEMOGA BERMANFAAT



Say NO to Puyer!!
Buat yang punya anak kecil......
Sabtu kemarin, tanggal 3 Mei 2008, aku ikut seminar kesehatan, dengan tema :
Seminar dan Diskusi Pakar : Puyer, Quo Vadis?
Sepintas, nggak ada yang aneh sama judulnya.. kelihatannya Cuma 'oohh
tentang puyer'. Siapa sih nggak kenal puyer? Dari jaman kita masih kecil,
sampe sekarang kita punya anak, dokter kan sering meresepkan puyer buat kita
Jadi, kenapa musti dibuat seminar khusus??
Menilik para pembicara... hmmm...
1. Prof. Dr. dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK (Departemen Farmakologi FKUI)
2. Dra. Ida Z. Hafiz, Apt. Msi (Departemen Farmasi FKUI)
3. Dr. Moh Shahjahan (WHO)
4. dr, Purnamawati S. Pujiarto, Sp.A(K), MMPed (Yayasan Orang Tua Peduli)
Kemudian ada diskusi yang diikuti para panelis dari YLKI, IDI Jakarta,
Pembicara, Majelis Kode Etik Kedokteran, Dirjen Pelayanan Kefarmasian dan
Alat Kesehatan Depkes.
Jelas ini seminar penting. Pesertanya lumayan banyak, ada dari mahasiswa
FKUI, dokter2, apoteker2, dan juga masyarakat awam. Pesertanya sekitar 300
orang. Makin penasaran, hal yang begitu biasa, diseminarkan, dengan dihadiri
para ahli??
Dari seminar ini, aku lumayan terhenyak dengan penjelasan dari Prof Rianto.
Sebenernya aku udah tau sih, puyer itu polifarmasi, yang akan meningkatkan
efek samping obat, yang dosisnya jadi nggak jelas, yang meningkatkan risiko
interaksi obat, de el el. Tapi penjelasan Prof Rianto lebih membuka mata
terhadap risiko puyer yang nggak main-main. Apa aja sih risiko pemberian
puyer itu :
1. Menurunnya kestabilan obat - kenapa? karena obat-obatan yang dicampur
tersebut punya kemungkinan berinteraksi satu sama lain.
2. Bisa jadi obatnya sudah rusak sebelum mencapai sasaran krn proses
penggerusan. Ada obat yang sedemikian rupa dibuat, karena obat tersebut akan
hancur oleh asam lambung. Karena misalnya, obat itu ditujukan untuk infeksi
saluran pernapasan atas, maka obat tersebut harus dibuat sehingga terlindung
dari asam lambung. Nah, kalo digerus jadi puyer, ya obat itu akan segera
hancur kena asam lambung. Lebih buruk, obat itu bisa jadi malah akan melukai
lambung.
3. Dosis yang berlebihan - dokter kan nggak mungkin apal sama setiap merek
obat. Jadi akan ada kemungkinan dokter meresepkan 2 merek obat yang berbeda,
namun kandungan aktifnya sama.
4. Sulitnya mendeteksi obat mana yang menimbulkan efek samping - karena
berbagai obat digerus jadi satu (Prof Rianto menyebutkan, ada dokter yang
meresepkan sampai 57 obat dalam 1 puyer!!!), dan terjadi reaksi efek samping
terhadap pasien, akan sulit untuk melacak obat mana yang menimbulkan reaksi,
lha wong obatnya dicampur semua...
5. Kesalahan dalam peracikan obat - bisa jadi tulisan dokter bisa jadi nggak
kebaca sama apoteker, sehingga bisa membuat salah peracikan (Prof Rianto
mencontohkan pasien asma diberi obat diabetes karena apoteker salah baca
tulisan dokter. Alhasil pasien seketika pingsan, dan saat sadar, fungsi
otaknya sudah tidak bisa kembali seperti semula).
6. Pembuatan puyer dengan cara digerus atau diblender, sehingga akan ada
sisa obat yg menempel di alatnya. Berarti, puyer yang diberikan ke pasien,
dosisnya sudah berubah - jadi.. kalo yang diresepin itu AB, tetep akan ada
kemungkinan resistensi dong ya, kan dosisnya udah di bawah dari yang
diresepin dokter?
7. Proses pembuatan obat itu kan harus steril, istilahnya harus dibuat dalam
ruangan yang jumlah kumannya sudah disterilkan (istilah ker enny a clean
room) - lha waktu proses pembuatan puyer di apotek... hmmm di dalem clean
room kah? Apotekernya pake sarung tangan kah? Sisa obat lain yang sebelumnya
digerus, sudah dibersihkan dengan benarkah? Kalo itu semua jawabannya tidak
(atau salah satu aja jawabannya tidak), means, obat yang digerus sudah
tercemar.
Yang paling mengerikan : ada obat yang sengaja dibuat slow release, artinya
dalam 1 tablet yang diminum, itu akan larut sedikit demi sedikit didalam
tubuh. Kalo sudah digerus jadi puyer, obat itu akan seketika larut.
Kebayangkan , berarti akan ada efek dumping... mampukah tubuh kita menahan
efek itu?
Sementara, yang biasa dikasih puyer kan bayi dan anak-anak...
mampukah tubuh kecil mereka menahan efek ini..??
Lebih terhenyak lagi, saat Dr. Moh Shahjahan dari WHO menceritakan bahwa
untuk Asian Region, cuma Indonesia yang masih pake puyer. Even Bangladesh,
yang miskin itu, sudah lama meninggalkan puyer, karena dinilai terlalu
banyak risk nya ketimbang benefitnya.
Sayang, dari seminar tersebut, para dokter sendiri masih pro dan kontra
mengenai puyer. Kebanyakan yang pro puyer, hanya menyoroti soal murah dan
mudah ( kan pasien kecil susah minum obat)... tapi kalo sudah membahayakan
jiwa... masihkah bisa berlindung di balik alasan2 tersebut??
So far, yang bisa dilakukan hanyalah menyadari konsumen yang bijak.
Bukan dokter yang akan menanggung efek sampingnya.. .
tapi anak-anak kita.. jadi bijaklah dalam memutuskan apapun yang harus
diminum oleh anak...
dr. Purnamawati menyarankan:
1. tanya diagnosa dalam bahasa medis, setiap kali kita berkunjung ke dokter
(ternyata radang tenggorokan itu bukan diagnosa, tapi gejala... hiks..),
supaya kita bisa browsing di internet mengenai penyakit tersebut
2. tiap kali diberi obat (atau resep) tanyakan nama obatnya, kegunaan obat
tersebut, dan efek sampingnya. Usahakan, sebelum ditebus, browsing dulu di
internet, supaya kita benar2 tahu apa kandungan aktif dari obat tersebut dan
apa efek sampingnya.
Selama kita masih bisa ke dokter, dan dokter masih sempet nulis resep,
artinya keadaan belum emergency. Jadi sempatkan untuk browsing dan/atau cari
2nd opinion. Kalo keadaan emergency, pasti dokter gak akan nulis resep, tapi
akan segera merujuk ke RS, bukan?
Soal obat, aku punya pengalaman, dikasih obat penahan rasa sakit sama dokter
(saat itu aku menderita abses peritonsillar - di dokter ke 3 baru berhasil
dapetin diagnosa ini, 2 dokter sebelumnya cuma bilang radang tenggorokan) ,
yang ternyata efek sampingnya : penurunan kesadaran, halusinasi, pendarahan
lambung... Jadi, ndak usah ditebus aja lah... masih bisa kok nahan sakit
sebentar lagi.
Semoga, berawal dari seminar ini, dunia kesehatan Indonesia bisa lebih
berbenah diri, demi anak-anak Indonesia .
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Say No To Puyer !
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Forum Farmasi UNEJ :: DISKUSI :: Kefarmasian :: Rumah Sakit-
Navigasi: